Feb
03

Di antara sekian banyak materi aritmatika yang ada, perkalian adalah momok tersendiri. Agar menjadi lebih positif, mari kita sebut bahwa perkalian adalah tantangan. Bagi siswa, terutama bagi saya sebagai guru. Setelah dua bulan mengajar, sebagian besar siswa telah mengerti konsep bahwa perkalian adalah penambahan yang berulang. Baiklah, satu tahap terlewati. Meski demikian, jalan masih terbentang panjang karena siswa kelas tiga sekolah dasar,  dalam kompetensi dasarnya tertuntut untuk “melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka.”Bagaimana mungkin mereka akan melakukan perkalian bersusun kalau perkalian 1-5 saja belum hafal?

Saya mulai memotIvasi siswa kelas tiga untuk menghafal perkalian. Tapi ternyata, kemajuannya sangat lambat. Mereka sangat gemar menjawab soal perkalian melalui perhitungan penambahan berulang. Saya bersabar-sabar sambil membiasakan soal perkalian untuk siswa karena saya memang belum menemukan cara mengakselerasi kemampuan atau motovasi menghafal mereka. Ingin pakai jaritmatika....tapi tak bisa untuk semua anak.

Hampir tiga bulan saya mengajar. Perkembangan hafalan perkalian siswa kelas tiga belum juga signifikan. Berdasarkan pengamatan saya, siswa kelas 4 dan 5 banyak yang mampu menghafal perkalian. Bagaimana bisa? Ternyata guru kelas tiga sebelumnya sangat ketat dalam hal menghafalkan perkalian. Seluruh siswa diminta untuk menghafalkan perkalian di rumah. Ketika di sekolah, siswa yang belum hafal perkalian diminta untuk menghafalkan perkalian sambil hormat ke bendera sampai hafal. Tentunya, metode ini dilakukan di bawah terik matahari. Benar juga, otak akan terstimulus bila guru melibatkan pengalaman dan emosi pada saat belajar. Dalam hal ini, emosi kesal yang terlibat. Wah, haruskah dengan cara ini?

Kemampuan rata-rata siswa menghafal perkalian tentu akan menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan saya dalam mengajar. Yang saya takutkan, bila sampai akhir  tahun ajaran nanti kemampuan siswa kelas tiga dalam menghafal perkalian tak kunjung meningkat, cap pendidikan yang keras adalah yang terbaik akan semakin mengakar. Cara mengajar tanpa bentakan dan tanpa hukuman fisik hanya akan membuat siswa manja.

Saya kemudian teringat akan konsep reward and punishment. Ya, saya akan memberikan reward bagi siapa saja yang dapat menghafalkan perkalian. Reward yang saya berikan harus memenuhi dua kriteria. Pertama, mampu membuat mereka senang dan ketagihan. Kedua, tentu harus bebas biaya karena saya akan memberikannya kepada 30 anak. Akhirnya, saya putuskan untuk memberikan tiket menonton sebagai reward menghafal perkalian. Saya akan mengajak siswa yang berhasil menghafalkan perkalian untuk menonton film singkat “Pustaka Anak Nusantara”.

Pada tahap awal, saya meminta siswa untuk menghafal perkalian 2 dan 3 di luar jam pelajaran dan meminta siapapun yang merasa sudah hafal untuk menyetorkan hafalannya kepada saya. Beberapa anak kemudian merasa tertantang dan mulai menghafal. Ketika pada akhirnya saya memberikan tiket di depan kelas untuk yang berhasil menghafalkan perkalian 2 dan 3, siswa yang lain menjadi semakin tertantang. Sebagaimana ketulusan itu menular, semangat dan rasa tertantang juga menular dengan cepat. Suasana semakin memanas ketika rombongan anak yang telah mendapatkan tiket selesai menonton dan bercerita kepada teman-temannya dengan penuh kebanggaan. Siswa yang lain menjadi penasaran. Siswa yang sudah menonton menjadi ketagihan. Aha!

Kini, di sela pelajaran, jam istirahat, atau sepulang sekolah, siswa dengan semangat menyetorkan hafalan perkalian mereka. Satu yang mereka inginkan: tiket menonton.

“Bu, saya nanti perkalian empat ya Bu?”

“Bu, saya tinggal perkalian berapa, Bu?”

“Sudah, Bu? Dapat tiket, Bu? Asyiiiiikk....:

Mata mereka berbinar ketika menerima hasil dari usaha mereka tersebut: tiket menonton. Binar itulah yang kemudian membuat saya semakin bersemangat untuk mencari cara untuk menempuh jalan menuju kompetensi dasar “melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka.”

 

Ondo-ondolu SPC, 27 Januari 2013

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!